Bayan KH. Udzairon
Bayan Maghrib
Setiap manusia yang mau hidup tenang,
damai, dan bahagia mereka harus mempunyai Iman yang benar. Menurut para
ulama Iman itu ada rasanya, seperti gula yang rasanya manis dan garam
yang rasanya asin. Kalau Iman ini tidak ada rasanya, ini berarti palsu
Imannya. Nabi SAW bertanya kepada sahabat, “Bagaimana rasanya Iman kamu
hari ini.” Lalu sahabat menjawab, “Saya dalam merasa betul-betul beriman
ya Rasullullah.” Nabi SAW bertanya, “apa buktinya ?” Sahabat menjawab,
“Saya merasa dunia ini sudah tidak ada artinya.” Sahabat ketika malam,
mereka Tahajjud semalam suntuk, dan ketika siang dalam keadaan berpuasa.
Sahabat tidur malam tidak yakin dapat hidup hingga pagi, bangun pagi
tidak yakin bisa hidup sampai malam. Ketika melangkahkan kaki kanan
rasanya tidak yakin masih bisa hidup ketika melangkahkan kaki kiri.
Ketika mengucapkan salam ke kanan dalam sholat rasanya tidak yakin masih
bisa memberi salam ke kiri. Inilah keimanan para sahabat, dan rasa dari
Iman mereka.
Thalhah RA dipukulin oleh musuh hingga mengucapkan
kata “Ah / Aduh“, Lalu Nabi SAW langsung menegurnya. Nabi SAW membuat
pelurusan iman, beliau SAW bersabda mahfum, ”Andai kata kamu mengucapkan
“Bismillah” ketika itu, maka kamu akan di angkat ke langit oleh Allah
ta’ala dan akan diselamatkan dari orang kafir.” Inilah pendidikan
keimanan yang diberikan oleh Nabi SAW kepada para sahabat. Nabi SAW
ingin para sahabat ini dalam segala keadaan tawajjuh kepada Allah
Ta’ala. Seperti Nabi Musa AS setiap ada masalah selalu menyelesaikan
masalah dengan do’a, tawajjuh kepada Allah. Orang yang Ahlul Iman
ciri-cirinya adalah selalu menyelesaikan masalah dengan do’a dan sholat.
Beda dengan orang yang tidak beriman, mereka akan menyelesaikan
masalahnya dengan asbab atau mahluk. Syekh Abdul Wahab selalu berkata
belajar menyelesaikan masalah dengan sholat sampai sholat kita
benar-benar menyelesaikan masalah. Cukup dengan sholat jika diterima ini
sudah bisa menjadi asbab terselesaikan segala masalah. Jika setelah
sholat kita masih ada rasa perlu menyelesaikan masalah dengan cara lain
berarti yakin kita masih salah. Yakin yang benar cukup dengan sholat
saja, tidak perlu yang lain, masalah dapat selesai. Asbab orang beriman
untuk menyelesaikan masalah adalah amal, sedangkan yang bukan orang
beriman asbab penyelesaian masalah adalah mahluk.
Semua manusia
bisa percaya pada yang namanya keimanan, namun tidak semua dari mereka
bisa merasakan apa itu Iman. Hari ini banyak manusia mati dalam keadaan
tidak bisa merasakan Iman, ini di karenakan mereka tidak buat usaha atas
Iman. Mati dalam keadaan rindu pada Allah hanya bagi yang bisa
merasakan Iman. Sahabat bertanya kepada Hudzaifah RA dalam keadaan
hampir meninggal, “Wahai Hudzaifah, apakah kamu menangis karena takut
mati?” Hudzaifah RA menjawab, ”Tidak, aku menangis bukan karena takut
mati. Aku sebenarnya mencintai mati, aku menangis karena khawatir,
apakah aku mati dalam keadaan Allah Ta’ala ridha kepadaku atau tidak?”
Seorang sahabat yang lain ketika menjelang ajalnya dia berkata kepada
istrinya untuk tidak menangisinya karena kematiannya. Dia berkata hari
kematiannya merupakan hari yang paling berbahagia baginya karena setelah
mati dia akan berjumpa dengan orang yang dicintainya yaitu Allah,
Rasul, dan para sahabat yang telah mendahuluinya. Sahabat bisa merasakan
manisnya Iman sehingga mereka mencintai mati. Sahabat beranggapan hanya
dengan kematian mereka dapat bertemu dengan yang mereka cintai yaitu
Allah dan RasulNya. Saad RA pernah mengirim surat kepada panglima Persia
yaitu Jendral Rustum, yang isinya, “Aku akan mengirimkan pasukan yang
mencintai mati sebagaimana kalian mencintai arak.”
Hari ini
setiap manusia hidup dalam ketakutan sehingga dia mati-matian usaha
untuk menghilangkan rasa takutnya. Hari ini apa yang paling di takutkan
manusia yaitu takut miskin dan takut susah. Sehingga asbab ketakutan
ini, mereka mati-matian mengumpulkan harta. Padahal untuk menghilangkan
rasa takut ini mudah saja, tidak perlu kerja mati-matian kerja, tidak
perlu uang yang banyak, cukup dengan agama saja. Agama ini adalah solusi
bagi seluruh rasa takut manusia. Dengan agama nanti Allah akan ganti
rasa takut miskin dan rasa takut susah dengan rasa kaya dan rasa
tenangnya penghuni Surga di dunia. Apa itu rasa cukup dan tenangnya
penghuni surga, yaitu ketika Allah bertanya kepada mereka di surga, “Apa
lagi yang kalian mau ?” maka para penghuni surga akan bingung mau apa
lagi karena mereka sudah merasa mendapatkan semua yang mereka mau, sudah
merasa cukup. Begitu pula dengan orang beriman yang telah Allah
masukkan rasa cukup dan tenang kedalam hati mereka maka mereka akan
bingung mau apa lagi. Lalu diakherat dia akan Allah jadikan orang yang
kaya dan berkuasa. Allah akan buatkan istana untuknya, yang di dalam
istana ini terdapat lagi 70 puluh istana, dan setiap istana mempunyai 70
kamar. Semuanya qualitas satu, dari wanita-wanitanya,
makanan-makananya, pelayan-pelayannya, sampai pada kebendaannya. Dengan
Agama, Allah jadikan kita manusia yang kaya di dunia dan akherat, tidak
perlu susah-susah seperti di dunia.
Hari ini manusia takut
sakit, sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada seorang dokter.
Padahal dokter-dokterpun kini pada sakit. Mau sehat cukup amal kan
Agama, di dunia akan Allah kasih kesehatan. Suatu ketika seorang tabib
keliling madinah dalam keadaan bingung, karena tidak satupun orang ada
yang sakit. Nabi SAW berkata mahfum kepada dokter itu, “ini dikarenakan
mereka mengamalkan sunnahku, mereka makan ketika lapar dan berhenti
sebelum kenyang.” Lalu nanti di akherat Allah akan berikan kita
Kesehatan yang luar biasa. Badan seperti Adam AS setinggi 30 meter,
kekuatan seperti Musa AS, suara seperti Daud AS, wajah seperti Yusuf AS,
dan umur seperti Isa AS.
Jadi Agama ini adalah solusi bagi
seluruh rasa ketakutan dan masalah manusia. Untuk dapat mengamalkan
agama ini perlu yang namanya Iman. Maulana Saad berkata, “Bagaimana Iman
dan Agama bisa wujud dalam diri kita jika waktu kita sebagian besar
masih digunakan untuk Dunia. Sementara waktu untuk agama hanya 2.5 Jam.”
Orang memberi alasan tidak bisa mengamalkan agama karena keadaan dan
lingkungan. Alasan-alasan ini tidak akan diterima di pengadilan Allah
nanti. Seperti kisah :
1. Ada orang kaya mengadu pada Allah
tidak bisa mengamalkan agama dengan alasan karena disibukkan oleh
kekayaannya. Lalu Allah berkata, “HambaKu Sulaiman AS lebih kaya dan
lebih sibuk dari kamu, tetapi kekayaan dan kesibukkannya tidak membuat
dia lalai dari perintahKu.”
2. Ada orang sakit yang mengadu
pada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena
kesehatannya tidak memungkinkan. Lalu Allah berkata, “HambaKu Nabi Ayub
AS lebih sakit darimu dan lebih parah penyakitnya dibandingkan dirimu
tetapi penyakitnya tidak melalaikannya dari mengingatKu.”
3.
Ada orang yang semasa hidupnya menjadi budak (bahasa modernnya pembantu
atau karyawan ) mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama
karena tidak bebas melakukan sesuatu. Lalu Allah berfirman, “Hambaku
Yusuf AS juga pernah menjadi budak, namun keadaannya tidak melalaikan
dia dari beribadah kepadaKu.”
4. Ada orang yang mengadu kepada
Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kemiskinannya.
Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Hambaku Isa AS lebih miskin darimu dan
lebih susah kehidupannya, tetapi kemiskinan dan kesusahan yang
dialaminya tidak melalaikannya dari beribadah kepadaKu.”
Sehingga
nanti orang-orang yang memberikan alasan-alasan ini semuanya akan Allah
seret kedalam Neraka Jahannam. Di pengadilan Allah nanti semua orang
akan Allah hisab dengan keras dan cepat. Allah akan tanya mereka seperti
:
1. Kemana engkau habiskan waktumu atau umurmu ?
2. Kemana engkau habiskan masa mudamu dan untuk apa ?
3. Dari mana asal hartamu dan digunakan untuk apa ?
4. Dari mana didapat ilmumu dan bagaimana pengamalannya ?
Disini
Allah tidak menginginkan alasan tetapi yang Allah inginkan adalah
jawaban. Tidak ada satupun alasan yang akan diterima oleh Allah. Manusia
yang tidak menghabiskan waktunya untuk Allah pasti telah menghabiskan
waktunya untuk selain Allah. Orang-orang yang menghabiskan waktunya atau
umurnya dengan ketaatan atau amal-amal Agama maka mereka akan mudah
melewati hisab. Begitu juga masa muda kita, ketika masih kuat dan sehat
kemana kita telah habiskan kekuatan dan kesehatan kita dan untuk apa.
Salah satu pemuda yang Allah sukai adalah pemuda yang senantiasa hatinya
terpaut pada mesjidnya Allah Ta’ala. Lalu mengenai harta, harta yang di
dapati dengan cara haram ini akan dimintai pertanggung jawabannya oleh
Allah. Allah akan hisab semuanya dari hasil yang dengan didapat dengan
jalan haram seperti mencuri, korupsi, menipu, sampai hasil yang didapat
dengan cara halal sesuai dengan perintah Allah dan sunnah Nabi SAW.
Mereka yang di zalimi akan mendapatkan bagian atau atau hak atas diri
kita dan amal-amal kita. Allah juga akan menghisab seluruh harta yang
digunakan bukan untuk agama Allah atau menjalankan perintah Allah.
Jadi
jangan sampai tertipu dengan harta seseorang, itu hanya ujian dan
titipan dari Allah. Orang yang paling kaya di dunia maka dia akan
menjadi orang yang paling sibuk menjawab pertanyaan Allah mengenai
hartanya didapat dari mana dan kemana ia habiskan. Begitu juga mengenai
Ilmu agama, Allah akan menanyakan kebenaran ilmu itu, dan didapat dari
mana. Amal yang tidak disertai Ilmu tidak akan diterima oleh Allah, dan
Ilmu yang tidak menambah ketakwaan orang yang berilmu akan mendatangkan
Murka Allah. Ilmu yang tidak diamalkan menjadi mubazir dan bisa menjadi
asbab kita bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepada kita.
Allah berfirman mahfum, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” Di akherat tidak akan diterima
alasan, “Saya tidak tahu Perintahnya ?” masalahnya kenapa kita tidak
cari tau.
Inti dari pengadilan Allah ini letaknya adalah dalam
pengamalan Agama. Orang yang sudah biasa mengamalkan agama secara
sempurna ketika hidup maka dia akan melewati Hisab dengan mudah.
Kehidupan yang sukses di dunia adalah kehidupan yang dapat membawa kita
masuk ke dalam surganya Allah Ta’ala. Seperti apa kehidupan yang sukses
itu, yaitu kehidupan yang penuh dengan amal agama. Untuk membuat suasana
kehidupan yang penuh amal agama di perlukan kerja Dakwah. Dengan Dakwah
Iman akan naik, suasana amal akan wujud, akhlaq manusia akan baik,
manusia akan berbondong-bondong masuk Islam, dan pertolongan Allah akan
datang.
Pahala umat akhir zaman ini 50 kali derajatnya lebih
tinggi dari para sahabat. Rasullullah SAW pernah bersabda mahfum,
“Sungguh beruntung, beruntung, beruntung, orang yang pernah melihatku
tetapi ia mau beriman kepadaku. Namun sungguh lebih beruntung (Nabi SAW
menyebutnya hingga 7 kali) lagi, orang yang tidak pernah melihatku
tetapi ia mau beriman kepadaku.” Dalam hadits lain Nabi SAW berkata,
“Aku rindu pada kekasih-kekasihku.” Lalu sahabat bertanya, “Bukankah
kami ini adalah kekasih-kekasihmu, ya Rasullullah SAW.” Nabi SAW
menjawab, “Kalian adalah sahabatku, kekasihku adalah mereka yang tidak
pernah bertemu denganku, tetapi mereka mengimani aku.” Nabi SAW bertanya
kepada sahabat, “Iman siapakah yang paling Afdhol / utama ?” para
Sahabat menajawab :
1. “Imannya para Malaikat.” Nabi SAW
menjawab, “Bagaimana Iman para malaikat bisa dibilang afdhol sedangkan
mereka dapat melihat dan mendengar Allah langsung.”
2. Lalu
para sahabat menjawab lagi, “Imannya para Nabi.” Nabi SAW menjawab,
“Bagaimana Imannya para Nabi bisa dibilang Afdol sedangkan Allah telah
memberi mereka wahyu.”
3. Lalu para sahabat menjawab lagi,
“Imannya para sahabat.” Nabi SAW menjawab, “Bagaimana Iman mereka (para
sahabat) bisa dibilang afdhol sedangkan mereka pernah berjumpa denganku
dan pernah melihat mukjizat-mukjizatku.”
4. Lalu para sahabat
bertanya, “Iman siapakah yang afdhol kalau begitu ya Nabiullah.” Nabi
SAW menjawab, “Yaitu mereka yang tidak bertemu dengan Allah, tidak
pernah menjumpaiku, dan tidak pernah melihat mukjizat-mukjizatku tetapi
mereka mau beriman kepadaku.”
Nabi SAW menganggap kita lebih
beruntung dari sahabat, iman kita dinyatakan sebagai iman yang paling
afdhol, dan kita ini dipanggil sebagai kekasihnya Nabi SAW. Tetapi hari
ini amal perbuatan kita tidak mencerminkan orang pantas dibilang sebagai
kekasih Nabi SAW, atau orang yang beruntung, atau orang yang mempunyai
iman yang afdol. Karena kehidupan kita hari lebih banyak mencerimankan
kehidupan musuh-musuh Nabi SAW. Untuk perkara ini perlu kita buat kerja
dajwah.
Allah telah berikan kepada umat ini 3 jabatan :
1. Khalifatullah : Pemimpin Allah di muka bumi
2. Na’ib Nabi SAW : Penerus Nabi SAW
3. Warisul Kitab : Pewaris Kitab / Mandat
Allah
telah wariskan dunia ini kepada orang beriman sebagai wakil Allah
dimuka bumi. Bagaimana caranya menjadi wakil Allah ini ? caranya sudah
Allah terangkan di dalam Al Qur’an dan di contohkan oleh Nabi SAW. Kita
ini adalah wakil dan petugas-petugas Allah di muka bumi. Maka kita harus
bertindak dan berlaku seperti petugas. Makan seperti petugas, tidur
seperti petugas, pakaian seperti layaknya seorang petugas, kerja seperti
seorang petugas, dan hidup seperti seorang petugas.
Syekh Abdul
Wahab, Amir Pakistan, berkata, “Kita harus tingkatkan niat kita dari
seorang da’i menjadi seorang Na’ib atau penerus Nabi.” Seseorang jika
dia bisa mengajak satu orang untuk taat kepada Allah sudah bisa dibilang
sebagai da’i. Tetapi yang kita perlukan adalah bukan hanya da’i tetapi
Na’ib atau penerus Nabi. Kita ini penerus dakwah nabi, penerus jaulah
nabi, penerus taklim nabi, penerus musyawarah nabi, penerus sholat nabi
SAW, dan lain-lain. Sehingga nanti ketika kita niat untuk meneruskan
sholatnya Nabi, maka Allah akan sempurnakan sholat kita seperti
sholatnya Nabi SAW. Dari derajat sholatnya, kekhusyuan sholatnya, tertib
sholatnya, dan lain-lain. Niatkan diri kita tinggi-tinggi karena nanti
Allah akan bangkitkan kita seperti apa yang kita niatkan. Seseorang niat
untuk menjadi hafidz namun belum selesai jadi hafidz dia sudah
meninggal, maka nanti Allah akan bangkitkan dia bersama para hafidz.
Jika kita niat untuk memahami Qur’an dan niat menyebarkan keseluruh
manusia, maka nanti Allah akan buat kita faham Al Qur’an dan
menyebarkannya keseluruh alam. Dalam mahfum hadits Allah berfirman, “Aku
ini seperti prasangkaan hambaku terhadapku…” Jika kita niat untuk
menjadi penerus nabi maka nanti Allah akan sempurnakan niat kita. Allah
akan sempurnakan amal seseorang tergantung dari apa yang dia niatkan.
Allah
telah berikan umat ini kitab yang utama yang menjadi penutup
kitab-kitab terdahulu. Al Quran ini isinya adalah seluruh perintah Allah
kepada umat ini sebagai pewaris kitab. Qur’an ini adalah mandat dari
Allah kepada orang beriman untuk di pelajari, di pahami, dan di
sampaikan kepada seluruh manusia sebagai panduan hidup. Dengan Qur’an
ini Allah akan buat hati manusia ini tenang dan bercahaya. Qur’an ini
juga akan menjadi saksi buat kita terhadap kesalahan-kesalahan umat
terdahulu.
Untuk dapat menyampaikan mandat ini kepada seluruh
manusia ini diperlukan kerja dakwah. Allah telah angkat derajat umat ini
dengan kerja Dakwah. Allah panggil kita dengan, “Choiru Ummah”,
sebaik-baiknya ummat, karena diberikan tanggung jawab Amar Ma’ruf Nahi
Mungkar. Namun amal yang telah mengangkat derajat umat ini malah kita
tinggalkan. Jika kita ke pasar tidak ada niat untuk dakwah atau minimal
benci dalam hati, maka seluruh dosa orang di pasar akan kita tanggung
dengan sempurna walaupun kita tidak melakukannya. Jika kita melihat
rumah ibadah agama lain lalu kita ucapkan “La Illaha Illallah La
Ma’buda Illallah”, maka Allah akan catat sebagai niat memberantas
seluruh kejahatan dan kemusyirikan dimuka bumi. Penting kita masuk pasar
baca do’a dan niat mau dakwah.
Nabi SAW di angkat ke langit
setelah melalui Mujahaddah yang tinggi, Allah buka seluruh hijab antara
Dia SWT dan Nabi SAW, tidak ada lagi pembatas. Hakekat Iman akan datang
setelah kita melewati Mujahaddah dalam mengamalkan agama. Sahabat
mengadu kepada Nabi SAW bahwa dia telah disiksa dan diperlakukan buruk
oleh orang kafir, namun dia tidak pernah membalas, bahkan mendo’akan
kebaikan untuk orang yang menyiksanya. Nabi SAW berkata mahfum, “Jika
kamu terus berbuat itu, maka Allah akan kirim malaikat untuk bantu
kita.” Orang buat salah lalu kita maafkan, maka ini adalah kesempatan
masuk surga tanpa hisab. Seorang sahabat sudah dibilang sebagai penghuni
surga karena amalannya sebelum tidur dia selalu memaafkan semua
kesalahan orang yang mendzalimi dia.
Untuk dapat mengamalkan
agama ini diperlukan keikhlasan. Orang yang mengamalkan agama tanpa
keikhlasan ini seperti orang yang membawa koper berisi batu. Orang yang
membawa koper ini akan terlihat seperti orang yang banyak uang, bawa
koper kemana-mana. Padahal setelah di buka isinya batu, mau beli apa-apa
tidak laku. Inilah orang yang mengamalkan agama tetapi tidak ada
keikhlasan.
Lakukan dakwah dengan sifat Nabi SAW :
1. Sifat Sabar Nabi SAW :
Setelah
Nabi SAW di tolak dakwahnya oleh orang Thaoif, Nabi SAW dihina-hina
mereka, bahkan di timpuki hingga puluhan kilometer sampai keluar kota..
Namun bagaimana nabi mendo’akannya kepada Allah, “Ya Allah jangan engkau
hukum umatku, ini disebabkan karena mereka tidak tahu. Ini adalah
salahku karena kelemahanku dalam menyampaikan. Semoga suatu saat nanti
keturunan mereka dapat memeluk agamaMu.” Inilah Akhlaq, Iqrom, Nabi SAW
setelah disakiti oleh orang yang mendzoliminya.
2. Ikhlas Nabi SAW :
Nabi
SAW berdo’a setelah ditimpuki dari Thoif : “Ya Allah biarkan yang lain
marah kepadaku, asalkan Engkau tidak marah kepadaku, maka jika yang lain
marah kepadaku tidak apa-apa (Tidak ada masalah).” Inilah keikhlasan
Nabi SAW dalam berdakwah.
Manusia ini karena terbuat dari tanah
sehingga mempunyai sifat yang berubah-ubah seperti tanah. Tanah ini jika
kena panas dia akan kering, jika kena hujan dia akan menjadi lembek dan
basah. Inilah sifat tanah selalu berubah-ubah berdasarkan keadaan.
Manusia hari ini begitu imannya, masih suka terpengaruh dan berubah-ubah
oleh suasana dan keadaan.
Maulana Ilyas bilang :
“Benteng terbesar bagi orang beriman ini adalah Dakwah. Hidupkan suasana dakwah maka Iman ini akan terjaga.”
Dakwah
ini jika benar dilaksanakan dan tertib maka musuh bisa menjadi kawan.
Sedangkan dakwah yang tidak dilaksanakan dengan benar bisa membuat kawan
menjadi musuh. Jika Iman dan Amal ini benar dikerjakan maka tambah hari
tammbah rindu sama yang namanya mati dan akherat. Tanda Dakwah ini
benar semakin hari semakin sayang kepada umat. Nabi SAW sangking
sayangnya kepada umat melihat orang meninggal tanpa iman rasanya mau
hancur hati jadinya. Bagaimana risau dan fikir nabi SAW bisa masuk ke
dalam diri kita ini perlu usaha, latihan, dan pengorbanan. Tujuan keluar
ini adalah latihan agar risau nabi bisa menjadi risau kita, fikir nabi
bisa menjadi fikir kita, kerja nabi bisa menjadi kerja kita, dan
kesedihan nabi bisa menjadi kesedihan kita. Orang yang keluar terus di
jalan Allah tidak mau buat Maqomi maka akan timbul sifat sombong. Tetapi
orang yang hanya mengerjakan Maqomi saja dan tidak mau keluar di jalan
Allah, tidak akan bisa lari dari sifat syirik. Namun jika orang tersebut
keluar juga dan Maqomi juga maka akan lahir sifat Tawakkal.
Sudah
menjadi ketentuan Allah siapa saja yang mau menjadi hafidz qur’an, maka
langkah pertama yang dia harus lakukan adalah menyediakan waktu untuk
membaca dan menghafal qur’an. Seseorang jika ingin menjadi petani maka
langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan waktu untuk
bertani. Begitu juga dengan pedagang, pengusaha, dan lain-lain. Maka
jika kita ingin menjadi penerus Nabi SAW, penting kita siapkan waktu
untuk meneruskan kerja Nabi SAW.